Dreams Come True, Izzah's Version
Saya Izzah Mufliha mahasiswa program studi Psikologi Universitas Jambi yang sekarang sudah menduduki semester 5. Sebelumnya, pada masa SMA saya berkesempatan menjadi salah satu awardee dari beasiswa Adik Asuh yang diberikan oleh Suryanara Foundation. Beasiswa tersebut memfasilitasi beberapa hal untuk menunjang persiapan untuk memasuki jenjang perkuliahan. Namun, sebelum mendapatkannya, ada kisah yang akan seru jika diceritakan. Berawal dari sebuah postingan yang saya temukan di Facebook dari akun IDN BEASISWA tentang beasiswa Adik Asuh Suryanara. Saya sangat tertarik dengan beasiswa tersebut dan memutuskan untuk mendaftar. Namun, ada beberapa hal yang menjadikan kisah ini menarik. Pada saat penyiapan berkas administrasi, saya harus beberapa kali ke kantor kepala desa untuk membuat surat keterangan tidak mampu. Membuat esai deskripsi diri yang menjadi salah satu berkas administrasi yang diperlukan membuat saya harus belajar menulis esai dengan guru bahasa Indonesia SMA saya pada waktu itu. Pembuatan esai dapat saya selesai, meskipun harus merelakan satu hal. Laptop yang saya gunakan untuk membuat esai mendadak rusak dan hanya bisa digunakan jika laptop tersambung dengan charger.
Semua terbayar dengan lolosnya saya sebagai awardee beasiswa tersebut setelah melewati seleksi administrasi dan wawancara yang dilakukan secara online. Dari beasiswa tersebut saya mengenal banyak orang-orang hebat yang juga membantu saya dalam mendapatkan informasi seputar persiapan masuk kuliah dan beasiswa bahkan saya mendapatkan mentor pribadi dengan peminatan yang sama, yaitu psikologi.
Berkat beasiswa tersebut juga, saya berhasil bergabung ke grup WhatsApp tentang informasi mengenai beasiswa. Melalui grup tersebut, saya mendapatkan informasi mengenai beasiswa Etos.Id. Beasiswa Etos.Id ini berada di bawah naungan yayasan Dompet Dhuafa. Beasiswa ini memberikan beberapa benefit kepada penerimanya seperti pembayaran UKT dan pemberian uang saku setiap bulan selama 8 semester, pembinaan, pelatihan bahasa asing serta bela diri.
Esai juga menjadi salah satu persyaratan administrasi beasiswa ini dan esai juga yang menjadi salah satu persyaratan tersulit yang harus dipenuhi. Pasalnya esai tersebut bukan hanya menceritakan deskripsi diri saja, tetapi juga harus memberikan opini terkait pembangunan daerah. Namun, hal tersebut kembali dapat saya lewati dan berhasil untuk melanjutkan seleksi ke tahap selanjutnya, yaitu wawancara yang kembali dilakukan secara online via zoom. Pada saat jadwal wawancara saya, kebetulan sedang terjadi mati lampu yang cukup lama bahkan hampir satu hari penuh sehingga menyebabkan sinyal internet menjadi tidak stabil. Hal tersebut membuat saya tidak dapat melakukan wawancara pada jadwal yang telah ditentukan. Saya menginformasikan hal tersebut pada Kakak-Kakak yang menjadi pewawancara pada saat itu, yaitu Mas Koko dan Kak Dewi agar diberi toleransi terkait kendala yang saya alami. Untungnya saya diberikanp kesempatan untuk dapat bertukar jadwal dengan peserta seleksi lainnya dan akhirnya saya mendapatkan jadwal wawancara di hari lainnya. Saya menghubungi beberapa peserta seleksi lainnya agar dapat bertukar jadwal dengan saya dan alhamdulillah mereka bersedia.
Akhirnya, saya melakukan seleksi wawancara. Pada saat itu, saya sangat gugup yang membuat Mas Koko dan Kak Dewi beberapa kali harus menenangkan saya. Bahkan akibat terlalu gugup, ketika diinstruksikan untuk membaca Al-Qur’an, saya melewati batas ayat yang harus saya baca. Semua pertanyaan dapat saya jawab, meskjpun saya merasa bahwa saya tidak optimal ketika seleksi wawancara. Saya sempat merasa insecure dengan peserta seleksi lainnya dikarenakan kebanyakan peserta seleksi sudah menjadi mahasiswa baru yang diterima melalui jalur SNMPTN. Sedangkan saya masih belum memiliki kejelasan apakah akan menjadi “Mahasiswa baru” atau tidak dikarenakan tidak lulus SNMPTN dan harus mengikuti SBMPTN terlebih dahulu yang hasil seleksinya pun belum diumumkan.
Tepat pada tanggal 14 Juni 2021, pengumuman SBMPTN dirilis dan saya dinyatakan lulus di Program Studi Psikologi Universitas Jambi. Menariknya, lolosnya saya pada SBMPTN ini pertama kali diketahui oleh teman-teman dari beasiswa AAS tadi. Pada saat itu, server dari website pengumuman SBMPTN down dan membuat saya sempat kesulitan mengaksesnya. Kemudian, saya menginformasikan ke grup WhatsApp beasiswa AAS terkait masalah tersebut dan bertanya apakah teman-teman yang lain juga mengalami hal yang sama. Sebagian mengatakan bahwa mereka mengalami hal yang sama, namun beberapa orang menawarkan bantuannya untuk mengecek kelulusan saya di SBMPTN. Saya pun mengiyakan dan memberikan beberapa data yang diperlukan. Tidak perlu waktu yang lama, teman-teman menginformasikan bahwa saya lulus SBMPTN. Saya yang sebelumnya sudah sangat berpasrah diri atas apapun hasil akhir dari SBMPTN, berubah menjadi terharu dan bahagia.
Beberapa hari setelahnya, hasil akhir seleksi beasiswa etos.id diumumkan. Pada tanggal 18 Juni 2021 pukul 17.00 tepatnya, saya langsung mengecek website etos.id. Dari dokumen yang diunduh, saya mencari nama saya, Izzah Mufliha. Izzah Mufliha, merupakan nama yang berada di baris ke 29 dan saya pun resmi menjadi etoser (awardee beasiswa etos.id). Satu hal yang sangat saya ingat pada saat itu adalah ekspresi dari orang tua saya, ketika mengetahui saya dinyatakan sebagai etoser. Ekspresi yang sampai sekarang tidak pernah terbayangkan oleh saya, akan ditampilkan oleh mereka. Ekspresi yang tidak bisa saya jelaskan, namun terucap dari mulut keduanya “Alhamdulillah, Zah”.
Semua yang saya lalui untuk bisa mendapatkan kedua beasiswa tersebut mungkin tidak berarti apa-apa bagi orang lain. Namun, saya benar-benar bersyukur atas hal tersebut. Sejujurnya, mendapatkan beasiswa telah menjadi impian saya sejak lama. Bahkan jauh sebelum saya lulus SMA dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Atas izin Allah SWT, impian tersebut pun dapat diwujudkan.







Komentar
Posting Komentar